MASALAH minat baca di kalangan anak-anak maupun orang dewasa di negeri kita sudah banyak ditulis di koran, majalah, sebagai topik penelitian atau makalah untuk diseminarkan.Namun, topik ini tetap menarik dan aktual. Mengapa? Karena setelah begitu banyak ditulis dan dibicarakan masih saja belum tampak peningkatan minat baca yang signifikan, hal ini terungkap dalam Seminar Pemasyarakatan Perpustakaan dan Minat Baca yang digelar pada Kamis (6/11) yang lalu di Hotel Prada, Sanur. Kegiatan yang secara khusus mengundang Prof Dr dr Luh Ketut Suryani, SpKJ (K) sebagai narasumber mencoba untuk menggugah kepedulian masyarakat terhadap minat baca.
“Kita terbiasa mendengar dan belajar berbagai dongeng, kisah, adat-istiadat secara verbal dikemukakan orangtua, tokoh masyarakat, penguasa pada zaman dulu. Anak-anak didongengi secara lisan, dan  menganggap waktu adalah hubungan baik. Jadi tidak terbiasa mencapai pengetahuan melalui bacaan”tetapi lebih senang untuk ngobrol, ungkap Prof Suryani yang telah menghasilkan lebih dari 10 buku.

Dalam rangka melaksanakan program jati diri yang berbasiskan Meditasi-relaksasi Spirit Suryani, sebanyak 32 orang mahasiswi Stikes Bina Usada Bali mendapatkan pelatihan meditasi relaksasi secara khusus dari Prof Dr dr Luh Ketut Suryani, SpKJ (K) pada Sabtu (8/11) lalu di Aula Stikes. Pada kesempatan tersebut mereka dilatih untuk melakukan meditasi dasar dan relaksasi, yang kemudian diisi dengan memahami diri sendiri melakukan pendekatan spirit.
“Banyak dari mereka tidak tahu apa yang harus dilakukan dalam kehidupan ini, mereka menganggap bahwa hidup ini hanya untuk dilalui begitu saja”, ungkap Prof Suryani disela-sela kegiatan. Guru besar dan juga founder dari Suryani Institute ini bermaksud menjadikan para mahasiswi ini sebagai salah satu pilot projectnya untuk mengubah kepribadian mereka dalam waktu 3 bulan.
“Secara teori barat butuh waktu tahunan untuk mengubah kepribadian seseorang, tetapi dengan metode spirit yang kami kembangkan hal itu bisa dicapai dalam waktu singkat sehingga mereka bisa lebih berguna bagi dirinya, keluarganya dan tentunya bangsa dan negara ini”, terang Suryani yang pada kesempatan tersebut didampingi oleh dr Cokorda Bagus Jaya Lesmana, SpKJ.

Meningkatnya penderita gangguan jiwa alias orang gila (orgil) di Karangasem diseminarkan psikiater Prof Dr dr Luh Ketut Suryani SpKJ. Sementara terdata 899 penderita gangguan jiwa. Tak jarang, proses penyembuhannya memanfaatkan tenaga balian atau dukun. “Jangan sampai kemampuan dokter dikalahkan balian. Pasalnya di masyarakat lebih banyak penderita gangguan jiwa berobat ke dukun dengan biaya lebih mahal,” demikian Prof Suryani dalam seminar di RSUD Karangasem, Jumat (24/10).

Walau, kata Prof Suryani, di Karangasem tak ada dokter spesialis untuk menangani penyakit gangguan jiwa, bukan berarti tak ada yang memberikan pertolongan. “Relawan saya tak berlatar belakang pendidikan kedokteran. Namun mereka juga mampu menangani pasien asalkan ada kemauan,” tambahnya.

“Pengobatannya dimulai dengan pemberian dosis sangat kecil. Ini diberikan secara teratur, dipantau setahun. Jika penyakitnya tak kambuh, hentikan pengobatan,” pesan Prof Suryani di hadapan tenaga medis dan paramedis setempat.

Dia berulang kali meyakinkan, penyakit gangguan jiwa bisa sembuh. “Tidak seumur hidup derita gangguan jiwa. Penyakit ini bisa disembuhkan walau tidak 100 persen,” tambahnya. Dalam mendeteksi penyakit gangguan jiwa, katanya, petugas lebih banyak mengobservasi. Misalnya, pasien tertentu berulang kali berobat ke puskesmas dengan keluhan sakit maag, pusing, perutnya sakit dan sebagainya namun setelah diperiksa tak terdeteksi ada penyakit. “Petugas jangan buru-buru mengatakan ada gangguan jantung, hati, dan sebagainya. Bilang saja tidak ada gangguan,” pintanya. Selanjutnya, petugas mesti meluangkan waktu ngobrol dengan pasien mengenai latar belakang keluarga, kehidupan yang dijalani, atau persoalan lainnya yang mengarah ke pribadi. “Bisa saja yang bersangkutan dihantui istrinya selingkuh, sehingga pikirannya kacau, berubah jadi stres dan lama-lama mengidap gangguan jiwa,” tambahnya. Prof Suryani juga menjelaskan penanganan pasien epilepsi. “Keluarga penderita epilepsi mesti telaten memberikan obat dan mengawasinya 24 jam tiap hari. Jangan dibiarkan pergi sendirian, khawatir penyakitnya kumat,” pintanya lagi.

Baik penderita epilepsi maupun gangguan jiwa, katanya, agar diberikan hak hidup wajar. Sementara itu dokter IN Gandhi menyampaikan keluhannya dalam menangani pasien gangguan jiwa. “Terkadang saya bingung memberikan jenis obat. Bahkan tak berani memberikan obat,” ujarnya.

Keluhan serupa disampaikan petugas medis lainnya. Tetapi Direktur RSUD dr I Gede Parwatha Yasa SpOG menyambut positif solusi yang diberikan Prof Suryani. “Saya nanti membuka pelayanan untuk pasien sakit jiwa walau tanpa psikiater namun bekerja sama dengan dokter umum di puskesmas,” janjinya.

Prof Suryani memaparkan penyebab utama meningkatnya gangguan jiwa di Karangasem adalah faktor ekonomi selain penyakit bawaan. “Di Bali ada 7.000 lebih penderita gangguan jiwa. Bali dikatakan Pulau Surga, tetapi banyak warganya menderita gangguan jiwa. Itu yang belum diseriusi kalangan pejabat di Bali. Mereka lebih banyak mengejar proyek fisik, sehingga pembangunan mental sering diabaikan,” sindirnya.(dikutip dari Harian Nusabali)

Villagers from Julah in Tejakula, Buleleng, tow (see photo) a pregnant cow behind a boat into open sea as part of a local traditional ritual.

The cow, which is five months pregnant, was thrown out to the sea about 3 kilometers from land Monday. The villagers believe the animal was impregnated by a village elder.

During the ritual the man, who was caught red-handed having sexual intercourse with the cow two months ago, joined the boat trip in order to throw away his clothes to to symbolize him discarding his sins.

Julah customary village head Ketut Sidemen said the ritual, called gamya gamana, or freak weeding, and had been conducted there for generations. The decision to perform the ritual was made a local residents meeting.

In line with customary regulations, the perpetrator, identified only as PS, 70, was sanctioned to fund the expensive ceremony, which aimed to cleanse him of any bad influences.

Luh Ketut Suryani, a professor and activist, deplored the sancation against PS.

She said drowning a cow was baseless because sexual intercourse between a human being and am animal could not cause pregnancy due to the different chromosomes and genes of the two.

“The cow is not guilty, why shoud it be drowned? Why don’t just use a symbol like what was done by the perpetrator?” she said.

Suryani’s said she was concerned dealt with the financial situation of the owner, who lives below the poverty line.

“The cow, which has a high price, had to be thrown away. It will be a pity for the owner, who is already poor and is now forced to lose his priceless belonging.” — JP/Alit Kertaraharja

Denpasar- Mengarahkan anak agar berprilaku positif dapat dilakukan dengan tidak menonjolkan kesalahan mereka, tetapi sebaliknya dapat dengan menonjolkan kelebihan-kelebihannya. Selain itu kata ahli kesehatan jiwa Universitas Udayana (Unud) denpasar, Prof Dr dr Luh Ketut Suryani SpKJ (K), orang tua jangan mudah menyalahkan anak.

“Biarkan anak berkembang secara wajar, sesuai dengan perkembangan usia mereka,” kata Suryani.

Hal itu dikemukakan Suryani di Denpasar akhir pekan lalu, dalam acara diskusi dan peluncuran bukunya berjudul “Biarkan Anak Berkembang Wajar”, yang diterbitkan Eviexena Mediatama, Bekasi. Peluncuran buku yang edisi pertamanya diterbitkan Juni 2008, disponsori oleh PT Telkomsel Regional Bali Nusra. Buku setebal 231 halaman, ditulis Suryani bersama putranya, Cokorda Bagus Jaya Lesmana.

Dalam diskusi yang dipandu GM Sales dan Customer Service Telkomsel Bali-Nusra, Hastining B Astuti, Suryani mengatakan, orang tua kerap keliru memaknai kenakalan anak. Mereka yang masih berusia 3-5 tahun jelasnya, memang harus nakal dan itu menandakan bahwa mereka anak pintar dan anak yang sehat. “Jangan dimarahi atau dilarang. Mereka boleh diarahkan, tapi tidak dengan menyalahkan anak-anak,” kata Suryani.

Anak yang dihukum lanjut pengajar di FK Unud Denpasar itu, kenakalannya bisa bertambah-tambah, karena dia ingin menunjukkan eksistensi dirinya. Tapi hal sebaliknya juga bisa terjadi, dimana si anak yang sering dihukum akan tumbuh menjadi penakut.

Orang tua lanjutnya, seharusnya melakukan evaluasi diri bila menghadapi anak-anak yang nakal. Sudahkah orang tua menyediakan waktu yang cukup untuk anak-anaknya, misalnya untuk membacakan buku cerita sebelum anak tidur, atau mendengarkan keluh kesah anak akan masalah yang mereka hadapi. “Saat ini orang tua banyak disibukkan dengan urusannya sendiri, bahkan mereka hampir tidak punya waktu untuk duduk dan makan bersama dengan keluarganya,” kata Suryani.

Tentang pengaruh negatif televisi trhadap perkembangan anak, dibenarkan oleh Suryani. Bahwa saat ini anak-anak lebih banyak waktunya disita untuk menonton televisi. Mulai saat hamil, para orang tua asyik mengajak janinnya menonton televis, begitu pula saat menyusui dan saat dititipkan pada pembantu rumah tangga, anak-anak juga diajak menonton televisi.

Tetapi lanjut Suryani, televisi jangan dilawan, melainkan bagaimana cara memberikan pengarahan kepada anak dan mencarikan mereka tayangan-tayangan yang baik dan bermanfaat. “Pilihkan mereka program televisi yang mendidik, atau dampingi mereka selama menonton televisi,” kata Suryani.

Mengenai pelaksanaan kegiatan belajar mengajar di sekolah taman kanak-kanak (STK), serta kaitannya dengan upaya menumbuhkan kreativitas anak, Suryani menyatakan kurang setuju siswa STK diharuskan mengenakan baju seragam. Menurut dia, biarkan anak memilih pakaian sendiri, karena hal itu bagian dari upaya membangun dan menumbuhkan kreativitas mereka. Dia menyarankan agar kegiatan belajar mengajar di TK tidak duduk berjajar sebagaimana di SD atau sekolah menengah, tetapi dengan duduk melingkar, sehingga kegiatan belajar tidak terkesan formal.

Menjawab pertanyaan, sampai usia berapa anak harus berpisah dari orang tuanya saat tidur, Suryani mengatakan, sangat tergantung pada anaknya dan jangan paksa untuk memisahkan mereka. Karena anak-anak yang selalu ingin dekat dengan orang tuanya adalah anak yang menginginkan perlindungan dan mereka merasa aman berada disamping orang tuanya.

Sementara itu, menceritakan pengalaman masa kecilnya, Jaya Lesmana yang juga ikut menulis buku “Biarkan Anak Berkembang Wajar”, mengatakan hampir tidak ada waktu tidak bertengkar dengan saudara-saudaranya. Anak ketiga dari enam bersaudara itu mengungkapkan, semasih kecil dia dan saudara-saudaranya hampir setiap hari memecahkan kaca rumah atau merusakkan meja. Tapi setelah siang hari mereka berkelahi dengan saudaranya, pada malam hari atau saat akan tidur, diberi pengertian oleh orang tuanya, ada yang hal yang lebih baik yang dapat mereka lakukan.

“Kami akhirnya akur lagi dalam bersaudara, tidak ada dendam atau rasa permusuhan dan itu terbangun hingga kami dewasa,” katanya.(dikutip dari republika online)

Denpasar, (ANTARA News) - Di Bali hampir setiap dua hari sekali terjadi satu kasus bunuh diri, hal itu terlihat dari data yang menyebutkan bahwa selama tahun 2008 sudah terdata 97 kasus dan sejak tahun 2003 tercatat 1.000 kasus.

Lembaga kesehatan mental, Suryani Institute, mengemukakan di Denpasar, Kamis, bahwa sejak 2004, bunuh diri di Bali jumlahnya lebih dari 150 kasus setiap tahun.

Suryani Institute mencatat bunuh diri terbanyak selama tahun 2008 terjadi di Kabupaten Karangasem dan Kabupaten Buleleng.

“Angka bunuh diri tertinggi terjadi pada tahun 2004 dengan 180 kasus. Dapat dikatakan, setiap dua hari sekali terdapat satu orang yang bunuh diri di Bali,” kata Psikiater Suryani Institute, Cokorda Bagus Jaya Lesmana.

Berdasarkan data 2003 hingga 2008, di Bali terjadi seribu kasus bunuh diri dengan 66,5 persen dilakukan laki-laki, 42,7 persen merupakan usia produktif yakni 20 hingga 39 tahun.

Lembaga kesehatan mental itu juga mencatat bahwa 13,7 persen pelaku bunuh diri masih berusia di bawah 20 tahun.

“Pelaku bunuh diri memang sebagian besar laki-laki, namun angka percobaan bunuh diri pada perempuan pun tinggi,” kata Jaya Lesmana.

Hampir 80 persen pelaku bunuh diri menggunakan metode gantung diri. Menurut Jaya Lesmana, metode tersebut lebih cepat membawa ke kematian dan angka keberhasilannya sangat tinggi.

Jaya Lesmana mengatakan, faktor tekanan mental, himpitan ekonomi dan derita fisik yang tak tersembuhkan menjadi alasan bunuh diri.Faktor pemicu lainnya yakni tidak adanya teman berbagi dan berbicara.

“Sebagian besar dari para pelaku sudah pernah berbicara ingin mati. Tapi mungkin karena sedikit yang memperhatikan, pelaku merasa sendiri dan akhirnya memilih bunuh diri,” kata Jaya Lesmana.

Tidak mau tergantung dengan pemerintah yang telah memiliki banyak lembaga perlindungan anak namun tidak ada yang melakukan gerakan nyata bagi korban pedofilia, membuat Committee Against Sexual Abuse (CASA) bekerjasama dengan Terre des Hommes (TdH) Netherland mengadakan kegiatan Training on Trainee. Kegiatan berlangsung di Gedung Pasraman Widya Santhi Dharma, Bedugul mulai tanggal 31 Oktober - 2 November 2008. Kegiatan selama 3 hari ini melibatkan 40 peserta dari seluruh Buleleng yang dijadikan pilot project dalam membentuk relawan antipedofilia. Kegiatan ini dipimpin langsung oleh Prof Dr dr Luh Ketut Suryani, SpKJ (K) selaku President CASA yang juga melibatkan dua psikiater muda dr Cokorda Bagus Jaya Lesmana, SpKJ dan dr I Dewa Gede Basudewa, SpKJ yang secara khusus datang ke Bali dari tempat kerjanya di RSJ Lawang, Jatim. Pada kesempatan tersebut koordinator kegiatan Alit Kertaraharja berharap para relawan yang telah digembleng secara khusus ini akan mampu bekerja di daerah mereka masing-masing untuk menjaga anak-anak tidak menjadi korban pedofilia dan juga diharapkan mampu menghentikan praktek pedofilia di Buleleng. “Kami tidak ingin masyarakat Buleleng menjadi korban lebih lanjut hanya karena lembaga bentukan pemerintah tidak bergerak menyikapi kasus-kasus pedofilia dan hanya mau menerima laporan saja dari balik meja”, ungkap Alit berapi-api.

Setelah tidak mendapatkan tanggapan dan tindakan nyata yang berarti dari Pemda setempat bagi penanganan pasien gangguan jiwa, Suryani Institute for Mental Health bekerjasama dengan Sydney University mencoba untuk mengetuk kepedulian dari pihak luar untuk peduli terhadap kondisi gangguan jiwa di Bali dan memberikan tekanan kepada pemerintah setempat untuk melakukan tindakan nyata terhadap penderita gangguan jiwa. Penempatan film dokumenter The Darkside of Paradise karya dr Cokorda Bagus Jaya Lesmana, SpKJ diharapkan mampu memberikan perubahan tersebut.

Film dokumenter tersebut dapat diakses melalui link di bawah ini:

http://au.youtube.com/watch?v=O-NWiCViXc0 

atau

http://www.usyd.edu.au/podcasts/video/dark_side_paradise.shtml

After a long run without any hope from the government of Bali, Suryani Institute for Mental Health collaborating with Sydney University put the mini documentary movie title The Darkside of Paradise directed by Cokorda Bagus Jaya Lesmana, MD in www.youtube.com. This move was made to make an awarness from outside the country and put pressure for the local government to pay more attention in helping mental illness in Bali.

The video can be access in the following links:

http://www.usyd.edu.au/podcasts/video/dark_side_paradise.shtml

or

http://au.youtube.com/watch?v=O-NWiCViXc0

Prihatin dengan kondisi gangguan jiwa berat yang ada di masyarakat tidak kunjung mendapat tanggapan dan penanganan, membuat Layanan Hidup Bahagia Kab Buleleng dibawah komando Prof Dr dr Luh Ketut Suryani, SpKJ (K) mendatangi Bupati Buleleng, Putu Bagiada pada Selasa (21/10) yang lalu. Diterima langsung oleh bupati Bagiada di ruang tamunya, Prof Suryani langsung memaparkan kondisi di lanpangan. Pada kesempatan itu juga Bupati disodorkan untuk menonton film dokumenter The Darkside of Paradise karya dr Cokorda Bagus Jaya Lesmana, SpKJ.
“Apa yang Ibu paparkan hanya sebagian kecil dari pembangunan yang kami lakukan di Buleleng, dan itu hanya hal kecil yang tercecer”, sanggah Bupati Bagiada mencoba untuk melihat dari sudut pembangunan fisik yang telah dilakukan selama ini. “Tidak ada sekolah yang rusak di Buleleng, semua puskesmas gedungnya sudah megah”, tambahnya berapi-api. “Namun apa yang Bapak lakukan tidak pernah menyentuh mental masyarakat”, sahut Prof Suryani yang menilai bahwa pembangunan yang dilakukan di Buleleng hanya bersifat fisik saja, sehingga masyarakat tidak pernah punya kepedulian maupun motivasi untuk membantu saudara-saudaranya yang mengalami kesusahan. Untuk itu Prof Suryani meminta diadakannya kerjasama dengan pihak Layanan Hidup Bahagia dibawah koordinasi Suryani Institute for Mental Health guna memberikan penanganan dan pencegahan di masyarakat terhadap gangguan jiwa.

Next Page »