LHB Tangani Pasung 30 tahun

Dibalik bukit yang masih hijau dan air telaga Yeh Malet yang tidak pernah kering, ternyata menyimpan seorang yang terpaksa harus dipasung selama lebih dari 30 tahun. Kenyataan ini terkuak pada kunjungan Layanan Hidup Bahagia dalam melanjutkan misi kemanusiaannya menangani gangguan jiwa di Karangasem, yang kali ini difokuskan di Desa Gegelang, Manggis pada Minggu (7/3) yang lalu.

penanganan-gegelang

Kunjungan rombongan LHB ke Karangasem untuk menangani mereka yang mengalami gangguan jiwa kembali menemukan penderita yang telah dipasung selama 30 tahun. Penderita I Ketut Lasia, yang telah berusia 53 tahun, warga Br Pakel, Ds Gegelang, Manggis ini terpaksa harus dipasung dengan dirantai oleh keluarganya selama 30 tahun. Ketika rombongan berkunjung ditengah teriknya sinar matahari dan panasnya udara, disambut oleh dua orang perempuan yang tampak lusuh diusia 50 tahunan. Dua orang perempuan yang tidak lain adalah adik-adik Lasia inilah yang mengurusnya sejak ditinggal oleh orang tuanya. Lasia merupakan anak ke 6 dari 8 bersaudara. Tiga kakak tertuanya sudah meninggal, sementara 2 adik terkecilnya tidak menikah dan tinggal bersamanya untuk mengurus kesehariannya.
Sebelum mengalami stres, ia pernah nyakap tanah Dukun Pedet, setelah berhenti bekerja ia mulai bingung. Keluarganya mengatakan ia mulai melihat papaya yang belum masak dikatakan sudah masak. Keluhan ini kemudian diikuti dengan ngumik-ngumik dan ketawa sendiri. Ia mulai mendengar orang-orang ramai yang tidak jelas suaranya.
Ia sempat dibawa ke RSJ Bangli dan dirawat selama 6 bulan, namun setelah dibawa pulang kumat lagi. Setelah itu keluarga lebih banyak mencari pengobatan dengan cara tradisional. Banyak balian sudah dicoba, sampai ke Badung, tapi tidak membuahkan hasil”, ungkap salah seorang keponakannya yang hadir untuk membantu memegang Lasia saat diberikan injeksi.
Keluarga sudah merasa payah mencarikan obat dan balian tapi tidak kunjung sembuh. “Kalau kumat terkadang membawa pisau, sehingga kami takut kalau nanti mencedari orang sehingga lebih baik kami rantai”, jelas Ni Nengah Menik adik terkecil Lasia. Kalau makan saya berikan apa adanya, tapi kalau mandi ia tidak pernah mau sehingga tidak pernah dimandikan. Kalau kencing dan berak ya ditempat itu saja dimana ia dirantai. Tidak ada yang berani mendekat karena sering dilempari dengan batu bata sisa lantai yang dihancurkan selama ia dirantai di gubuk tersebut.
Kebutuhan sehari-hari dipenuhi oleh keluarga sendiri yang terkadang harus mencari pinjaman karena penghasilan tidak mencukupi. Rata-rata perlu 2 juta perbulan untuk mengurus tiga orang yang tinggal di rumah tersebut. Meskipun memiliki hampir 80 are tegalan namun karena keterbatasan dalam menggarapnya membuat mereka sering harus mencari pinjaman. Kondisi ini tidak pernah tersentuh oleh penanganan baik dari dinas kesehatan maupun dinas sosial.
Kunjungan rombongan LHB kali ini terasa cukup berkesan karena dokter puskesmas manggis, dr Wiradana dan para perawat setia menemani Prof Dr dr Luh Ketut Suryani, SpKJ (K) selaku pimpinan rombongan yang juga ditemani oleh dr Cokorda Bagus Jaya Lesmana, SpKJ, serta relawan Komang Gede, Komang Adi, dan Wiweka.

Comments are closed.